Sabtu, 07 April 2012

Jurnal 04

Pertemuan tak terduga.
Di ujung tangga. Segenap kekecewaan dapat kucurahkan dalam keheningan disana. Tiba-tiba Chamal lewat di depanku dan berbincang sebentar....
"din, ada yang kenalan tuh!" Chamal dengan nada candanya.
" apa! enggak. apaan siih!" Jawab salah satu temannya.
Demi Tuhan aku tak pernah mengingat pertemuan itu. Hari-hari berlalu..
"dini..dini.. hai dini.."
Ku cari siapa yang memanggilku, tengok kanan-kiri-depan-belakang-bawah(looh)-dan atas. Ternyata suara itu dari tangga di atas kananku. Dan aku hanya memberi senyuman. Lalu berjalan kembali. Bodoh dan aneh, sambil berjalan aku terus mengingat-ingat siapa dia yang memanggil namaku. Saraf otakku terus bekerja. Yipp, aku ingat dia kan temannya Chamal. Tapi, aku enggak tahu namanya.
Seakan ditakdirkan untuk selalu bertemu. Ditangga, koridor kelas, kantin, jalan menuju toilet. Dimana-mana selalu berpapasan. Dia selalu menyapaku.
"dini..dini"
"hai, dini.."
"hai, dini mau kemana?"
Setiap kali bertemu, aku hanya tersenyum. Habis, aku juga enggak tahu namanya. Dibilang sok kenal emang dia sok kenal. Belakangan aku baru tahu dia bernama Raka Prasetyo.

Jumat, 06 April 2012

Jurnal 03

Mengagumi.
Kala itu aku masih duduk di kelas 2 junior high school . Hari itu pertama kali aku masuk kelas itu.  Disekolahku setiap pergantian tahun pasti setiap kelas mengalami pengacakan siswa. Pertukaran antar kelas. Katanya sih supaya siswa lebih mengenal satu-sama-lain. Aku paling enggak suka sama yang namanya beradaptasi . Dengan pertukaran antar kelas so pasti beradaptasi dari awal lagi. Pikiranku sudah macam-macam gimana kalau temen-temen baruku enggak asik-asik pasti bagai belajar di neraka.
1,2,3,4 bulan berlalu ternyata semua salah, mereka lebih asik dari yang kubanyangkan. Aku jadi punya sahabat. Abel yah, Abel pinter, juara umum, periang, menggemaskan, tapi dibalik itu dia punya sisi kedewasaan yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku.
Mengagumi seseorang memang sangat menyakitkan. Apa yang disukainya, yang tidak disukainya, tinggalnya dimana, sampai hal-hal yang sangat sangat kecil aku ingin tahu semua tentang dia. Ervan. Yipp Ervan, aku mau tahu semua tentangmu. Dibantu Abel, ku ekspresikan perasaanku pada Ervan. Tapi benang merah yang kurajut sendiri demi memahami apa yang ada dalam dirinya terputus begitu saja. Ervan, memiliki perasaan kepada Abel. Mengagumi memang menyakitkan, semua sia-sia. pengekspresian perasaan yang aku berikan semua hanyalah angin lalu baginya.
Ervan, menginginkan Abel, tapi sayang Abel sudah terikat pada pertautan kasih sayang yang saling membalas. Abel mempunyai kekasih, Chamal namanya. Dia adalah teman baikku di kelas 1. Ervan tahu Abel milik Chamal. Tapi Ervan terus mengejar Abel, walau Abel sudah menegaskan jangan berharap dia akan memilih Ervan.

Sabtu, 31 Maret 2012

Junal 02

First love.
love love love love.
Jika saja ada kata diatas cinta aku pasti akan menggungkapkan padanya. Walau beberapa musim telah berlalu aku masih saja teringat padanya. Walau sudah berusaha menghapusnya dan perlahan terhapus, tetap saja dia terkadang hadir dalam alam bawah sadarku. Love, darinya aku belajar tentang apa yang ada dalam sebuah kata itu "cinta". Sebuah kata yang tidak pernah habis untuk didiskusikan, dibicarakan. Karena hanya cukup untuk dimengerti dan dipelajari. Tidak seperti halnya matematika yang dapat ditemukan perhitungannya. Begitu pula, dalam novel yang kubaca terkutip sebuah pernyataan oleh Albert Einstein, tak semua yang dapat dihitung, diperhitungkan dan tak semua yang diperhitungkan dapat dihitung.
Bagiku firts love merupakan memory yang terindah. Bayangkan diumurku yang masih belia atau kasarnya ababil, aku sudah dicerca kerumitan cinta, begitu kompleks padahal itu hanyalah sebuah kata. Alhasil aku menyia-nyiakan my firts love. Tapi,aku tidak menyesalinya, bahkan aku berterima kasih karena telah dipertemukannya.

Jurnal 01

Hakikatnya setiap manusia mempunyai rasa keinginan yang ingin dicapai. Terima Kasih Tuhan Engkau telah memberikan jalannya bahkan lebih dari yang aku inginkan.. so,I'll do the best. for my mother, you're my everything in my life. love you mom :*.

Perkembangan Peserta Didik


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Perkembangan merupakan suatu proses yang terjadi selama manusia hidup. Studi mengenai perkembangan seseorang tidak lagi seperti dulu berhenti pada waktu orang mencapai kedewasaannya, melainkan berlangsung terus dan mulai konsepsi hingga orang itu mati. Pembentukan pada masa dini ini akan bersifat tetap dan mempengaruhi sifat penyesuaian fisik, psikologis dan sosial pada masa-masa yang kemudian. Hal ini pula menyebabkan mengapa perlakuan terhadap anak pada masa dini ini harus sedemikian rupa sehingga dapat mengarah kepada penyesuaian sosial dan penyesuaian pribadi yang baik pada masa yang akan datang. Dapat pula dibuktikan bahwa perkembangan kognisi dan kecerdasan anak ditentukan pula pada masa yang sangat awal ini, bahkan pada masa pranatalnya. Kalau pengertian-pengertian ini nantinya dapat dipadukan dengan program-program pemeliharaan anak-anak Balita, tentu akan merupakan paduan usaha yang sangat baik.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran – pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan. Oleh karena itu perlu kita ketahui faktor – faktor apa saja yang dominan pengaruhnya dalam perkembangan peserta didik.

1.2 Rumusan masalah
Apa saja faktor – faktor pertumbuhan dan perkembangan peserta didik ?

1.3 Tujuan Pembahasan
Mengetahui faktor – faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.












BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pertumbuhan peserta didik

Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal :

a)      Faktor-faktor yang terjadi sebelum lahir.  waktu yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat ini terjadi pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel menjadi satu organisme yang lengkap dengan otak dan kemampunn berperilaku, dihasilkan dalam waktu Iebih kurang sembilan bulan.

b)      Faktor ketika lahir atau saat kelahiran. saat perkembangan yang brrlangsung sejak lahir sampai 18 atau 24 bulan. Masa ini adalah masa ynng sangat. Bergantung kepada orang tua. Banyak kegiatan-kegiatan psikologis yang baru dimulai misalnya; bahasa, koordinasi sensori motor dan sosialisasi.

c)      Faktor yang dialami bayi sesudah lahir. perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai 5 atau 6 tahun, kadang-kadang disebut masa pra sekolah. Selama fase ini mereka belajnr melakukan sendiri banyak hal dan berkembang keterampilan-keteranipilan yang berkaitan dengan kesiapan unttik bersekolah dan memanfaatkan waktu selama beberapa jam untuk bermain sendiri ataupun dengan temannya.

d)     Faktor psikologis. perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur 6 sampai 11 tahun, sama dengan masa usia sekolr.h dasar. Anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung. Secara formal mereka mulaimemastiki dunia yang lebih luas dengan budayanya. Pencapaian prestasi menjadi arah perhatian pada dunia anak, dan pengendalian diri sendiri bertambah pula.




Hasil pertumbuhan antara lain berwujud bertambahnya ukuran-ukuran kuantitatif badan anak, seperti panjang, berat, dan kekuatannya. Begitu pula pertumbuhan akan mencakup perubahan yang makin sempurna tentang system jaringan saraf dan perubahan-perubahan struktur jasmani lainnya. Dengan demikian, pertumbuhan juga dapat diartikan sebagai proses perubahan dan proses pematangan fisik.

2.2 Perkembangan peserta didik

Perkembangan adalah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada kualitas fungsi organ-organ rohaniah dan bukan pada organ jasmaniah tersebut sehinggga penekanan arti perkembangan terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang termanifestasi pada kemampuan organ fisiologis. Proses perkembangan akan berlangsung sepanjang kehidupan manusia, sedangkan proses pertumbuhan seringkali terhenti jika seseorang telah mencapai kematangan fisik (Hartina, S., 2008).

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik :

1. Faktor internal
Yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri. Dengan demikian faktor internal bisa dibagi menjadi 2 macam faktor fisik dan faktor psikis (Zunun, 2008).

a)      Faktor fisik
Di dunia ini orang mempunyai bentuk tubuh yang bermacam – macam. Ada yang tinggi ceking, ada yang pendek gemuk, dan ada yang sedang antara tinggi dan besar badanya. Sudah jelas, masing – masing mmpunyai pengaruh tersendiri bagi perkembangan seorang anak
b)      Faktor psikis
Dalam hal kejiwaan, ada anak periang, sehingga banyak pergaulan. Akan tetapi ada pula yang selalu tampak murung, pendiam, mudah tersinggung karenanya suka menyendiri, kecerdasan dan temperamen.

2. Faktor Eksternal
Yaitu hal – hal yang datang atau ada diluar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungan. Faktor eksternal dibagi menjadi 6 macam: faktor biologis, physis, ekonomis, cultural, edukatif, dan religious (Zunun, 2008).





a)      Faktor biologis
Bisa diartikan, biologis dalam konteks ini adalah faktor yang berkaitan dengan keperluan primer seorang anak pada awal kehidupanya: Faktor ini wujudnya berupa pengaruh yang datang pertama kali dari pihak ibu dan ayah.

b)      Faktor phyis
Maksudnya adalah pengaruh yang datang dari lingkungan geografis, seperti iklim keadaan alam, tingkat kesuburan tanah, jalur komunikasi dengan daerah lain, dsb. Semua ini jelas membawa dampak masing – masing terhadap perkembangan anak – anak yang lahir dan dibesarkan disana.

c)      Faktor ekonomis
Dalam proses perkembanganya. Betapapun ukuranya bervariasi, seorang anak pasti memerlukan biaya. Biaya untuk makan dan minum dirumah, tetapi juga untuk mebeli alat – alat sekolah.

d)     Faktor cultural
Di Indonesia ini, jika dihitung ada berpuluh bahkan beratus kelompok masyarakat yang masing – masing mempunyai kultur, budaya, adat istiadat, dan tradisi tersendiri, dan hal ini jelas berpengaruh terhadap perkemangan anak – anak.

e)      Faktor edukatif
Pendidikan tak dapat disangkal mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak manusia. Malah karena sifatnya berencana dan sering kali diusahakan secara teratur, faktor pendidikan ini relatif paling besar pengaruhnya disbanding faktor yang lain manapun juga.

f)       Faktor religious
Sebagai contoh seorang anak kyai, sudah pasti ia akan berebeda dengan anak lain yang tidak menjadi kyai, yang sekedar terhitung orang beragama, lebih – lebih yang memang tidak beragama sama sekali, ini adalah soal perkembangan pula, menyangkut proses terbentunya prilaku seorang anak dengan agama sebagai faktor penting yang mempengaruhinya.

Beberapa aliran yang berhubungan dengan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa adalah:
1.      Aliran Nativisme
Nativisme (nativism) adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran psikologis . Tokoh utama aliran ini bernama arthur Schopenhoeur (1788-1860) seorangg filosofis Jerman, Aliran filosofis nativisme ini dijuluki sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kacamata hitam, karena para ahli penganut ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak ada pengaruhnya. Dalam ilmu pendidikan pandangan ini disebut pesimisme pedagogis (Radhy, 2007)

1.      Aliran Empirisisme
Aliran empirisisme (empiricism) tokoh utamanya adalah John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah “ The School of British Empiricism” (aliran empirisme inggris). Doktrin aliran empirisme yang amat mashur ialah “tabula Rasa” yang berarti lembaran kosong. Doktrin tabula rasa menekankan arti pentingnya pengalaman, lingkungan dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidiknya sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya (Radhy, 2007).

2.      Aliran Kovergensi
Aliran kovergensi merupakan gabungan antara aliran empirisisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas ( pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama aliran ini bernama Louis William Stern, seorang filosof dan psycholog Jerman (Radhy,2007).



























BAB III
PENUTUP



3.1 Kesimpulan

Perkembangan merupakan suatu proses yang terjadi selama manusia hidup. Studi mengenai perkembangan seseorang tidak lagi seperti dulu berhenti pada waktu orang mencapai kedewasaannya, melainkan berlangsung terus dan mulai konsepsi hingga orang itu mati. Pembentukan pada masa dini ini akan bersifat tetap dan mempengaruhi sifat penyesuaian fisik, psikologis dan sosial pada masa-masa yang kemudian.

Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan.



























DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2009, Perkembangan peserta didik (online), Http:www.dowbload-search-engine.com/perkembangan+peserta didik-ebook-pdf.html

Hartina, S., 2008, Perkembangan Peserta Didik, Reflika Aditama, Tegal.

Radhy, M.S., 2007, Perkembangan Peserta Didik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah, Pare-Pare.

Sumadi Suryabrata,B.A,M.A,2004,PsikologiPendidikan,Jakarta:Rajawali Pers.

Sunarto,2006,PerkembanganPesertaDidik,Jakarta:RinekaCipta.

Syamsu Yusuf,M.Pd,2004,PsikologPerkembanganAnakdanRemaja,Bandung:Kosda.

Zunun, M.M., 2008, Seminar Psikologi Pendidikan Islam,
www.asterpix.com/tagclodclick/?=24376617url=http://scribd.asterpix.com (Perkembangan anak). hy, 2007).
http://www.blogger.com/profile/16617324004617747062 cuek cuek bebek blogger
























Kamis, 20 Oktober 2011

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN AGAMA tuga PAI


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

            Menurut Al-Quran, manusia diciptakan ALLAH langsung berbentuk manusia secara fisik dan morfologis. ALLAH Maha Kuasa. Bagaimana caranya dia menciptakan seorang manusia. Dalam kehidupan seorang pemimpin agama seperti Isa, ALLAH memberikan tamsil bahwa ALLAH mwnciptakan Isa dan kita manusia tidak memikirkan ayah Isa tanpa diceritakan oleh ALLAH secara detail. Begitu pula dengan penciptaan Adam yang masanya jauh kebelakang sebelum Isa.
Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah mahluk yang memilki potensi untuk berahlak baik (takwa) atau buruk (fujur) potensi fujur akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait dengan aspek instink, naluriah, atau hawa nafsu, seperti naluri makan/minum, seks, berkuasa dan rasa aman. Apabila potentsi takwa seseorang lemah, karena tidak terkembangkan (melalui pendidikan), maka prilaku manusia dalam hidupnya tidak akan berbeda dengan hewan karena didominasi oleh potensi fujurnya yang bersifat instinktif atau implusif (seperti berjinah, membunuh, mencuri, minum-minuman keras, atau menggunakan narkoba dan main judi).

Agar hawa nafsu itu terkendalikan (dalam arti pemenuhannya sesuai dengan ajaran agama), maka potensi takwa itu harus dikembangkan, yaitu melalui pendidikan agama dari sejak usia dini. Apabila nilai-nilai agama telah terinternalisasi dalam diri seseorang maka dia akan mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia yang bertakwa, yang salah satu karakteristiknya adalah mampu mengendalikan diri (self contor) dari pemuasan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan ajaran agama.



1.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan makalah ini adalah “Hubungan Manusia Dengan Agama”.
Untuk memberikan kejelasan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam makalah ini masalahnya dibatasi pada :
1. Konsep dan Eksistensi Manusia
2. Pengertian Agama
3. Konsep Agama
4. Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Bermasyarakat
5. Hubungan Manusia dan Agama

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai tugas dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam tentang hubungan manusia dengan agama.


















BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Konsep dan Eksistensi Manusia

1.    Hakikat Manusia

Al-Quran telah menegaskan dengan memberi jawaban bahwa manusia bukan keturunan kera, melainkan keturunan manusia pertama (Adam) yang diciptakan oleh ALLAH dari tanah. ALLAH menciptakan manusia yang terdiri dari materi dan roh, melalui tahapan-tahapan, dari tanah menjadi lumpur htam yang diberi bentuk dan kemudian menjadi tanah kering seperti tembikar, kemudian setelah disempurnakan bentuknya ALLAH memberikan roh maka jadilah Adam.

Dalam Q.S, Al-Mukminun (23):12-14 dan Q.S, As-Sajadah(32):7-9. Menegasakan bahwa manusia tersusun dari dua unsur : materi dan inmateri, jasmani dan rohani. Unsur materi (tubuh) manusia berasal dari tanah dan roh manusia berasal dari substansi inmateri. Tubuh mempunyai daya fisik jasmani, yaitu mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium, dan daya gerak. Roh mempunyai dua daya, daya berfikir yang disebut akal yang berpusat di kepala, dan daya rasa yang berpusat di hati. Unsur-unsur inmateri yang lain yang ada di manusia itu terdiri dari roh, qalbu, akal, dan nafsu.

2.    Tujuan Penciptaan Manusia

ALLAH menegasakan tujuan penciptaan manusia dalam firman-Nya, yang artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar meraka beribadah kepada-Ku”.

Berdasarkan ayat di atas kedudukan manusia dalam sistem penciptaannnya adalah sebagai hamba ALLAH. Kedudukan ini berhubungan dengan hak dan kewajiban manusia di hadapan ALLAH sebagai penciptanya.
           
          Hakikat ibadah, menurut Sayyid Quthb tersimpul dalam dua prinsip, yakni  
a.    Tertanamnya makna menundukkan dan merendahkan diri kepada ALLAH (AL-Ubudiyah Lillah) didalam jiwa. Dengan kata lain, manusia senantiasa menyadari bahwa dalam alam ini hanya ada satu Tuhan yang kepada-Nya manusia beribadah.
b.    Berorientasi kepada ALLAH dalam segala aktifitas kehidupan.

Nabi Muhammad SAW. Menggariskan prinsip suatu aktifitas yang  bernilai atau tidak dalam suatu hadits beliau, yang artinya: “ Sesungguhnya nilai segala perbuatan diukur dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap perbuatan sesorang akan dibalas sesuai dengan niat kita”.

3.    Fungsi dan Peranan yang Diberikan ALLAH

Manusia mempunyai peran yang ideal yang harus dijalankan, yakni memakmurkan bumi, mendiami dan memeliahara serat mengembangkannya demi kemaslakatan hidup meraka sendiri, bukan mengadakan pengrusakan didalamnya.

Kedudukan yang dipegang dan peranan yang dimainkan manusia dalam panggung kehidupan ini di dunia pasti berakhir dengan kematian.

2.2 Pengertian Agama

Agama menurut bahasa sansakerta, agama berarti tidak kacau (a = tidak gama = kacau) dengan kata lain, agama merupakan tuntunan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan. Didunia barat terdapat suatu istilah umum untuk pengertian agama ini, yaitu : religi, religie, religion, yang berarti melakukan suatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian, perbuatan ini berupa usaha atau sejenis peribadatan yang dilakukan berulang-ulang. Istilah lain bagi agama ini yang berasal dari bahasa arab, yaitu addiin yang berarti : hukum, perhitungan, kerajaan, kekuasaan, tuntutan, keputusan, dan pembalasan. Kesemuanya itu memberikan gambaran bahwa “addiin” merupakan pengabdian dan penyerahan, mutlak dari seorang hamba kepada Tuhan penciptanya dengan upacara dan tingkah laku tertentu, sebagai manifestasi ketaatan tersebut (Moh. Syafaat, 1965).

Dari sudut sosiologi, Emile Durkheim (Ali Syari’ati, 1985 : 81) mengartikan agama sebagai suatu kumpulan keayakinan warisan nenek moyang dan perasaan-perasaan pribadi, suatu peniruan terhadap modus-modus, ritual-ritual, aturan-aturan, konvensi-konvensi dan praktek-praktek secara sosial telah mantap selama genarasi demi generasi.

Sedangkan menurut M. Natsir agama merupakan suatu kepercayaan dan cara hidup yang mengandung faktor-faktor antara lain :

a. Percaya kepada Tuhan sebagai sumber dari segala hukum dan nilai-nilai hidup.
b. Percaya kepada wahyu Tuhan yang disampaikan kepada rosulnya.
c. Percaya dengan adanya hubungan antara Tuhan dengan manusia.
d. Percaya dengan hubungan ini dapat mempengaruhi hidupnya sehari-hari.
e. Percaya bahwa dengan matinya seseorang, hidup rohnya tidak berakhir.
f.   Percaya dengan ibadat sebagai cara mengadakan hubungan dengan Tuhan.
g.  Percaya kepada keridhoan Tuhan sebagai tujuan hidup di dunia ini.

Sementara agama islam dapat diartikan sebagai wahyu Allah yang diturunkan melalui para Rosul-Nya sebagai pedoman hidup manusia di dunia yang berisi Peraturan perintah dan larangan agar manusia memperoleh kebahagaian di dunia ini dan di akhirat kelak.







2.3 Konsepsi Agama

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Bakoroh 208, Allah berfirman :
يايها الدين امنواادخلوا فى السلم كافة ولاتتبعوا خطوت الشيطن انه لكم عد ومبين
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam islam secara utuh, keseluruhan (jangan sebagian-sebagaian) dan jangan kamu mengikuti langkah setan, sesunggungnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.

Kekaffahan beragama itu telah di contohkan oleh Rosulullah sebagai uswah hasanah bagi umat islam dalam berbagai aktifitas kehidupannya, dari mulai masalah-masalah sederhana (seperti adab masuk WC) samapi kepada masalah-masalah komplek (mengurus Negara). Beliu telah menampilkan wujud islam itu dalam sikap dan prilakunya dimanapun dan kapanpun beliu adalah orang yang paling utama dan sempurna dalam mengamalkan ibadah mahdlah (habluminallah) dan ghair mahdlah (hablumminanas).

Meskipun beliau sudah mendapat jaminan maghfiroh (ampunan dari dosa-dosa) dan masuk surga, tetapi justru beliau semakin meningkatkan amal ibadahnya yang wajib dan sunah seperti shalat tahajud, zdikir, dan beristigfar. Begitupun dalam berinteraksi sosial dengan sesama manusia beliu menampilkan sosok pribadi yang sangat agung dan mulia.

Kita sebagai umat islam belum semuanya beruswah kepada Rasulullah secara sungguh-sungguh, karena mungkin kekurang pahaman kita akan nilai-nilai islam atau karena sudah terkontaminasi oleh nilai, pendapat, atau idiologi lain yang bersebrangan dengan nilai-nilai islam itu sendiri yang di contohkan oleh Rasulullah SAW.

Diantara umat islam masih banyak yang menampilkan sikap dan prilakunya yang tidak selaras, sesuai dengan nila-nilai islam sebagai agama yang dianutnya. Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan kejadian atau peristiwa baik yang kita lihat sendiri atau melalui media masa mengenai contoh-contoh ketidak konsistenan (tidak istikomah) orang islam dalam mempedomani islam sebagai agamanya.

2.4 Fungsi Hukum Islam Dalam Kehidupan Bermasyarakat

            Hukum Islam memiliki ruang lingkup pembahasan yang sangat luas. Hukum Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan,, tetapi juga mnegatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan makhluk hidup yang lain. Ada beberapa fungsi-fungsi hukum Islam, yakni :
1.    Fungsi Ibadah
Merupakan fungsi paling utama hukum islam yang ajarannya harus dipatuhi manusia.
2.    Fungsi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Keberadaan hukun islan ditujukan untuk mengatur perikehidupan manusia. Proses pengharaman riba dan khamar menunjukan adanya keterkaitan penetapan hukum (ALLAH) dengan subjek dan objek hukum (perbuatan mukhallaf).
3.    Fungsi Zawazin
Fungsi ini terlihat dalam pengharaman, pembunuhan dan berzinah, yang disertaii dengan ancaman hukuman dan sanksi.
4.    Fungsi Tanzim Wa Islah Al-Ummah
Merupakan sarana untuk mengatur sebaik mungkin dan mempelancar proses interaksi sosial sehingga terwujudlah masyarakat yang harmonis, aman, dan sejahtera. Hukum ini berkaitan dengan masalah perkawianan dan perwariasan.

2.5 Hubungan Agama Dan Manusia

Kondisi umat islam dewasa ini semakin diperparah dengan merebaknya fenomena kehidupan yang dapat menumbuhkembangkan sikap dan prilaku yang moral atau degradasi nilai-nilai keimanannya. Fenomena yang cukup berpengaruh itu adalah :
1.  Tayangan media televisi tentang cerita yang bersifat tahayul atau kemusrikan, dan film-film yang berbau porno.
2. Majalah atau tabloid yang covernya menampilkan para model yang mengubar aurat.
3. Krisis ketauladanan dari para pemimpin, karena tidak sedikit dari mereka itu justru berprilaku yang menyimpang dari nilai-nilai agama.
4. Krisis silaturahmi antara umat islam, mereka masih cenderung mengedepankan kepentingan kelompoknya (partai atau organisasi) masing-masing.

Sosok pribadi orang islam seperti di atas sudah barang tentu tidak menguntungkan bagi umat itu sendiri, terutama bagi kemulaian agama islam sebagai agama yang mulia dan tidak ada yang lebih mulia di atasnya. Kondisi umat islam seperti inilah yang akan menghambat kenajuan umat islam dan bahkan dapat memporakporandakan ikatan ukuwah umat islam itu sendiri.

Agar umat islam bisa bangkit menjadi umat yang mampu mewujudkan misi “Rahmatan lil’alamin” maka seyogyanya mereka memiliki pemahaman secara utuh (Khafah) tentang islam itu sendiri umat islam tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa) tetapi juga dalam bidang iptek (ilmu dan teknologi). Mereka diharapkan mampu mengintegrasikan antara pengamalan ibadah ritual dengan makna esensial ibadah itu sendiri yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti : pengendalian diri, sabar, amanah, jujur, sikap altruis, sikap toleran dan saling menghormatai tidak suka menyakiti atau menghujat orang lain. Dapat juga dikatakan bahwa umat islam harus mampu menyatu padukan antara mila-nilai ibadah mahdlah (hablumminalaah) dengan ibadag ghair mahdlah (hamlumminanas) dalam rangka membangun “Baldatun thaibatun warabun ghafur” Negara yang subur makmur dan penuh pengampunan Allah SWT.