Mengagumi.
Kala itu aku masih duduk di kelas 2 junior high school . Hari itu pertama kali aku masuk kelas itu. Disekolahku setiap pergantian tahun pasti setiap kelas mengalami pengacakan siswa. Pertukaran antar kelas. Katanya sih supaya siswa lebih mengenal satu-sama-lain. Aku paling enggak suka sama yang namanya beradaptasi . Dengan pertukaran antar kelas so pasti beradaptasi dari awal lagi. Pikiranku sudah macam-macam gimana kalau temen-temen baruku enggak asik-asik pasti bagai belajar di neraka.
1,2,3,4 bulan berlalu ternyata semua salah, mereka lebih asik dari yang kubanyangkan. Aku jadi punya sahabat. Abel yah, Abel pinter, juara umum, periang, menggemaskan, tapi dibalik itu dia punya sisi kedewasaan yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku.
Mengagumi seseorang memang sangat menyakitkan. Apa yang disukainya, yang tidak disukainya, tinggalnya dimana, sampai hal-hal yang sangat sangat kecil aku ingin tahu semua tentang dia. Ervan. Yipp Ervan, aku mau tahu semua tentangmu. Dibantu Abel, ku ekspresikan perasaanku pada Ervan. Tapi benang merah yang kurajut sendiri demi memahami apa yang ada dalam dirinya terputus begitu saja. Ervan, memiliki perasaan kepada Abel. Mengagumi memang menyakitkan, semua sia-sia. pengekspresian perasaan yang aku berikan semua hanyalah angin lalu baginya.
Ervan, menginginkan Abel, tapi sayang Abel sudah terikat pada pertautan kasih sayang yang saling membalas. Abel mempunyai kekasih, Chamal namanya. Dia adalah teman baikku di kelas 1. Ervan tahu Abel milik Chamal. Tapi Ervan terus mengejar Abel, walau Abel sudah menegaskan jangan berharap dia akan memilih Ervan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar